Aku jatuh cinta, sejak bertemu dengannya hingga entah kapan. Dan cinta ini melampaui batasan-batasan fisik. Bayangannya saja mampu memnimbulkan rasa tergila-gila yang luar biasa. Khayalan akan senyumnya mampu membawa efek ekstasi.
Kehadirannya mampu mencerahkan hari-hariku yang sebelumnya selalu kelabu. Senyumnya mampu mewarnai hari-hari yang sebelumnya hanya ada hitam dan putih. Hari ini hari bahagia kami, hari ini hari pernikahan kami. Segala sesuatu telah kupersiapkan untuk menyambut hari ini, mulai dari makan malam, kado, juga bunga.
Dia biasa menebarkan senyumnya ke semua orang. Setiap hari selalu ada kebahagiaan yang dibagikannya. Selalu ada kedamaian dalam setiap hadirnya. Dan kini semuanya itu telah abadi, tak terusik, dan tak akan terganti.
Khusus untuk tahun ini, bunga warna-warni akan kuberikan padanya di siang hari. Mulai tahun ini, makan malam ulang tahun pernikahan kami hanya akan ditemani oleh potretnya, dan sejak tahun ini, kado untuknya adalah do’a agar di bahagia di alam sana.
Bahkan bunga warna-warni ini pun tak seindah senyumnya.
NB: Tulisan fiksi ini dibuat dalam rangka memeriahkan Ubud Writers and Readers Festival 2010.
http://flashfiction.ubudwritersfestival.com/2010/08/dia-dalam-keabadian/