Arsip untuk Maret, 2008

Cinta

Cinta pertama saya terjadi saat saya masih kelas 6 SD. Cantikkah dia? Ah, biasa saja. Tapi dia “seksi” dan “keren”. Ah, masak anak kelas 6 SD bisa tahu cewek seksi? Tahu dong, karena bagi saya, anggota tubuh cewek paling seksi dan keren adalah otaknya. Iya, si do’i adalah bintang kelas sejak kelas satu. Dan kebetulan semua cewek yang sedang sial karena kejatuhan cinta saya (dalam artian pengen “nembak” ato sudah “nembak”. Bukan yang tergiur oleh body ato wajah aduhai. Hwehehe) kemampuan akademis mereka diatas saya.

Cinta memang tidak bisa dilogika. Walopun sudah jelas-jelas dan sering kali mereka akan menolak saya, tapi saya tetep nekat. Begitu juga yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Saya bener-bener nekat untuk mencintai. Bukan seseorang, tapi sesuatu. Begitu cintanya, saya sampai terobsesi. Begitu keras kepalanya saya, padahal “dia” sudah 2x nolak saya terang-terangan, dan puluhan “tembakan” yang lain tidak terjawab.

Banyak orang bilang saya gila, bukan hanya sodara, tapi juga sahabat. Lho, wong memang saya sedang tergila-gila kok. Kenapa saya sampai begitu terobsesi untuk menjadi bagian “darinya”? Pertama, dengan menjadi bagiannya, saya akan bisa membuat orang lain bahagia atas apa yang telah saya perbuat, dan otomatis itu akan membuat saya bahagia pula.

Kedua, manusia yang paling berguna adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Ketiga, jika hidup ini adalah rangkaian ibadah, maka bekerja pun harus menjadi ibadah. Keempat, ada hutang yang harus saya bayar. Kelima, karena ini cinta, dan cinta seringkali tidak butuh alasan. Hwehehe…

Dengan alasan-alasan diatas, bagaimana saya tidak tergila-gila untuk menjadi seorang relief work? Lalu sampai kapan saya akan mencintai dan terobsesi untuk menjadi bagian “darinya”? Ya sampai saya lelah dan tidak mampu lagi. Kapan itu? Saya sendiripun ga tahu. BTW, saya sedemikian keras kepala karena yakin suatu saat akan menjadi bagian “darinya”. Boleh saja “dia “ saat ini belum mau menerima kehadiran saya, tapi suatu saat akan tersadar dan menerima cinta ini

Wallahu’alam Bishowab

Komentar (1) »

Hutang

together with all right and privileges belonging to that degree”

Kata-kata tersebut tercantum dalam ijasah sarjana yang telah saya dapatkan hampir 4 tahun yang lalu. Sebuah tanggung jawab yang menyertai kelulusan tersebut.

Tidak tahu setan darimana yang mengendon diotak saya saat menentukan pilihan di (saat itu masih bernama) UMPTN. Saya memilih suatu jurusan yang ternyata tidak sesuai dengan minat di kemudian hari. Dan dengan otak pas-pasan dan dalil bahwa kuliah itu adalah hobby (dalam artian hobby=dilakukan jika hanya ada keinginan. Hehehe) saya pun meraih kelulusan dengan nilai dibawah standar (dunia industri).

Tapi saya tidak ambil pusing, karena bekerja didunia industri bukanlah impian saya, saya punya impian yang lain. Saya pernah berjanji akan membayar kewajiban tersebut dengan cara saya sendiri, yaitu bersekolah lagi sesuai dengan bidang yang akan menyokong impian saya. Dan kewajiban yang tertera di ijasah itu pun belum pernah terlaksana, niat & impian itu pun masih jauh panggang dari api.

Dan dimanakah saya saat ini? Saya berada di dunia “pelacuran” (selanjutnya akan tanpa kutip). Iya, menjadi pelacur. Saya sebut menjadi pelacur karena saya memang menjual diri, sebab apa yang saya lakukan bukanlah cita-cita. Kenapa harus melacur? Selain agar bertahan hidup, saya melacur untuk mengisi waktu luang sambil menunggu dan berusaha meraih impian.

Dengan (terpaksa) mengerjakan begitu banyak hal hanya untuk bertahan hidup. Mulai jadi kurir, tukang tagih, desainer, project officer, marketing, kuli, dll. Tapi saya hanyalah manusia biasa. Saya hanya punya dua tangan, dua kaki, otak pas-pasan, dan tenaga yang terbatas. Dengan memikul demikian banyak beban dan tanggung jawab, maka seringkali otak ini jadi kacau bekerjanya, dan “sumbu” saya jadi makin memendek. Hwehehehe

Ah, sudahlah. Saya sudah terlalu banyak mengeluh. Dosa. Hehehe. Tapi saya punya cara mujarab untuk mengusir rasa lelah itu :

  1. Selalu mencoba tertawa

  2. Bersenandung “Redemption Song” dari Bob Marley:

emancipate yourselves from mental slavery

none but our selves can free our mind”

  1. Berteriak keras-keras dalam hati ”JANCUUUKK!!!!”. Ingat, bagi arek Suroboyo, pisuhan itu bukan sekedar caci-maki, tapi juga mengandung banyak hal.

Ada nasehat dari Emak dan Ibu saya yang membuat saya tetap semangat.

Mengeluh tidak akan menghasilkan apapun, hanya akan menambah rasa dari penderitaan itu sendiri. Lek wis wayahe, yo bakalan teko. Ga iso dipekso, Le”

Dan saya pun percaya, bahwa saat untuk membayar hutang kewajiban itu pun akan tiba.

Wallahu’alam Bishowab

Komentar bertahan »

BALADA

Dunia saya saat ini adalah dunia pameran. Dunia para kuli yang harus kerja keras demi memenuhi tenggat waktu dengan bayaran minim. Sehingga bukan hal yang aneh bila di arena pameran saat pra pameran ditemui banyak orang hitam, gondrong dan bertato. Selain kami para kuli dari kontraktor, ada juga yang terlibat di pra pameran yaitu organizer. Sedikit intro, didalam organizer terdapat para petugas Check List (CL) yang secara fisik tidak beda jauh dengan kami para kuli. Hwehehe…No offense.

Tapi khusus pameran kali ini, tidak bisa saya temui para petugas CL yang berkulit legam seperti yang saya lihat. Selidik punya selidik, ternyata mereka telah digusur secara semena-mena. Kenapa? Berikut kriteria para CL yang ditetapkan oleh Dy*****, selaku organizer :

  1. Tidak gondrong

  2. Bersih (kata bersih ini menurut versi mereka adalah putih)

  3. Dengan tinggi badan semampai

Jadi mereka2 yang telah terbiasa menjadi CL dan saat ini tidak terpilih lagi, tiga alasan itulah yang mendasarinya. Bukan karena performa, tapi karena mereka kurang sedap untuk dipandang (menurut organizer) Apakah mereka pernah minta dilahirkan berkulit hitam? Apakah mereka pernah minta dilahirkan pendek? Jawabnya tidak. Tapi keadaan itulah yang harus mereka terima.

Apakah ini suatu bentuk rasisme? Atau malah sudah menjurus apartheid? Ah, tak tahulah awak ini. Awak hanya bisa tertawa melihat kenyataan ini. Hwahahah..!!!

Buat anda arwah para pejuang yang telah mengorbankan nyawa untuk republik ini, maafkanlah mereka.

Komentar (1) »