Cinta pertama saya terjadi saat saya masih kelas 6 SD. Cantikkah dia? Ah, biasa saja. Tapi dia “seksi” dan “keren”. Ah, masak anak kelas 6 SD bisa tahu cewek seksi? Tahu dong, karena bagi saya, anggota tubuh cewek paling seksi dan keren adalah otaknya. Iya, si do’i adalah bintang kelas sejak kelas satu. Dan kebetulan semua cewek yang sedang sial karena kejatuhan cinta saya (dalam artian pengen “nembak” ato sudah “nembak”. Bukan yang tergiur oleh body ato wajah aduhai. Hwehehe) kemampuan akademis mereka diatas saya.
Cinta memang tidak bisa dilogika. Walopun sudah jelas-jelas dan sering kali mereka akan menolak saya, tapi saya tetep nekat. Begitu juga yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Saya bener-bener nekat untuk mencintai. Bukan seseorang, tapi sesuatu. Begitu cintanya, saya sampai terobsesi. Begitu keras kepalanya saya, padahal “dia” sudah 2x nolak saya terang-terangan, dan puluhan “tembakan” yang lain tidak terjawab.
Banyak orang bilang saya gila, bukan hanya sodara, tapi juga sahabat. Lho, wong memang saya sedang tergila-gila kok. Kenapa saya sampai begitu terobsesi untuk menjadi bagian “darinya”? Pertama, dengan menjadi bagiannya, saya akan bisa membuat orang lain bahagia atas apa yang telah saya perbuat, dan otomatis itu akan membuat saya bahagia pula.
Kedua, manusia yang paling berguna adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Ketiga, jika hidup ini adalah rangkaian ibadah, maka bekerja pun harus menjadi ibadah. Keempat, ada hutang yang harus saya bayar. Kelima, karena ini cinta, dan cinta seringkali tidak butuh alasan. Hwehehe…
Dengan alasan-alasan diatas, bagaimana saya tidak tergila-gila untuk menjadi seorang relief work? Lalu sampai kapan saya akan mencintai dan terobsesi untuk menjadi bagian “darinya”? Ya sampai saya lelah dan tidak mampu lagi. Kapan itu? Saya sendiripun ga tahu. BTW, saya sedemikian keras kepala karena yakin suatu saat akan menjadi bagian “darinya”. Boleh saja “dia “ saat ini belum mau menerima kehadiran saya, tapi suatu saat akan tersadar dan menerima cinta ini
Wallahu’alam Bishowab