Kelaparan+kehausan dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghilangkannya adalah sebuah bencana. Hehehe.
Setelah donor darah, saya terbiasa untuk merasa sangat haus+lapar. Sekotak susu dan sebungkus biskuit dapat menyegarkan kembali badan ini. Tapi tidak hari ini, karena ransum untuk pendonor tersebut hilang di ruang tunggu karena kecerobohan saya sendiri. Air putih pun jadi pelampiasan untuk tubuh yang sedang dilanda rasa lapar, haus, dan lemas serta tidak bisa berbuat apa-apa karena permohonan untuk minta ransum lagi ditolak dan uang yang hanya tersisa Rp. 500. Janc*kk!!!
Untunglah, saya bisa sampai dikantor dengan selamat serta melampiaskan dahaga dan lapar. Jadi ingat para korban bencana gempa Jogja yang semangat ‘45 mengambil ransum saat waktu makan tiba di dapur umum milik tentara. (HIPERBOLIS. Hehehe)