Feeds:
Posts
Comments

by Gen. Douglas Mc Arthur

Build me a son, O Lord
Who will be strong enough to know when he is weak
Brave enough to face himself when he is afraid
One who will be proud and unbending in honest defeat
Humble and gentle in victory

Build me a son whose wishes will not take the place of deeds
A son who will know Thee – and that to know himself
is the foundation stone of knowledge

Lead him, I pray
not in the path of ease and comfort
but under the stress and spur of difficulties and challenge
Let him learn to stand up in the storm
Let him learn compassion for those who fail

Build me a son whose heart will be clear
whose goal will be high
A son who will master himself
Before he seeks to master other men
One who will reach into the future
Yet never forget the past

And after all these things are his, add, I pray
Enough of a sense of humour so that he may always be serious
Yet never take himself too seriously
Give him humility, the simplicity of true greatness
the open mind of true wisdom
and the meekness of true strength

Then I, his father, will dare to whisper:
“I have not lived in vain”

 

*Son or daughter is not a problem for me. Sebagai penutup: Amiinnn….

Bahagiaku Bahagiamu

Dihirupnya udara ibu kota negerinya dalam-dalam. Oh.., ternyata kota ini tetap penuh polusi walau pun telah ditinggalkan selama berbulan-bulan. Langkahnya menuju pangkalan taksi bandara, dan segera memerintahkan sopir taksi menuju hotel besar di tengah kota. Sengaja dia tak menuju rumah yang telah sangat dirindukannya, demi memberikan hadiah ulang tahun untuk seseorang yang begitu dicintainya minggu depan.

Selama seminggu penuh, sepanjang sore hingga malam hari dihabiskannya untuk berburu objek foto yang dia yakin akan diterima dengan senang hati oleh orang tersebut. Dengan setia diikutinya kemana pun sang objek foto bergerak. Dengan lensa telenya, diabadikanlah momen-momen indah itu.

Satu hari sebelum ulang tahun orang yang sangat dicintainya itu, foto-foto hasil bidikannya dicetak dengan hati-hati agar hasilnya sebagus mungkin.  Setelah semua hasil cetakan itu kering, dibungkusnya dengan kotak kado yang indah dan tak lupa diselipkan sebuah surat disana.

Esok harinya, pagi-pagi betul pulanglah dia menuju rumah yang sudah sangat dirindukannya. Dibangunkannya perempuan yang sangat dicintai itu dengan kecupan lembut dikening sambil berkata: “Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga kau bahagia selalu. Hanya ini yang bisa kuberikan, dan maaf aku hanya pulang sebentar”. Setelah mengemasi barangnya, lelaki itu pun beranjak pergi.

Saat perempuan itu membuka bingkisan, tangannya bergetar melihat momen-momen indahnya dengan lelaki lain telah tersusun rapi dalam album. Dibacanya surat yang terselip. “Matamu dalam foto ini menunjukkan bahagia yang tulus, serta senyummu merekah indah. Sesuatu yang telah lama tak kulihat. Kumpulan kebahagiaanmu ini merupakan hadiah ulang tahunmu yang pertama dariku. Hadiah yang kedua adalah kau kubebaskan dari kewajiban sebagai seorang istri. Dan semoga engkau mampu bahagia selamanya dengan dia. Maafkan bila tidak bisa membuatmu bahagia. Love. Aku”

NB: Tulisan fiksi ini dibuat dalam rangka memeriahkan Ubud Writers and Readers Festival 2010.

http://flashfiction.ubudwritersfestival.com/2010/09/bahagiamu-bahagiaku/

Dia dalam keabadian

Aku jatuh cinta, sejak bertemu dengannya hingga entah kapan. Dan cinta ini melampaui batasan-batasan fisik. Bayangannya saja mampu memnimbulkan rasa tergila-gila yang luar biasa. Khayalan akan senyumnya mampu membawa efek ekstasi.

Kehadirannya mampu mencerahkan hari-hariku yang sebelumnya selalu kelabu. Senyumnya mampu mewarnai hari-hari yang sebelumnya hanya ada hitam dan putih. Hari ini hari bahagia kami, hari ini hari pernikahan kami. Segala sesuatu telah kupersiapkan untuk menyambut hari ini, mulai dari makan malam, kado, juga bunga.

Dia biasa menebarkan senyumnya ke semua orang. Setiap hari selalu ada kebahagiaan yang dibagikannya. Selalu ada kedamaian dalam setiap hadirnya. Dan kini semuanya itu telah abadi, tak terusik, dan tak akan terganti.

Khusus untuk tahun ini, bunga warna-warni akan kuberikan padanya di siang hari. Mulai tahun ini, makan malam ulang tahun pernikahan kami hanya akan ditemani oleh potretnya, dan sejak tahun ini, kado untuknya adalah do’a agar di bahagia di alam sana.

Bahkan bunga warna-warni ini pun tak seindah senyumnya.

NB: Tulisan fiksi ini dibuat dalam rangka memeriahkan Ubud Writers and Readers Festival 2010.

http://flashfiction.ubudwritersfestival.com/2010/08/dia-dalam-keabadian/

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.